Laman

Minggu, 27 Desember 2009

Lantunan Sajak Cinta

Lantunan Sajak Cinta


Oleh : Lusi Apriani

Ternyata aku kembali. Kalau bukan karna sebuah tugas yang sangat penting, aku tidak akan pernah kembali lagi di sini. Sebuah desa kecil di perbatasan Sumatra. Tempat yang pernah jadi pembuangan sepenggal kisah masa laluku. Aku buang mentah-mentah mimpi dan harapan yang paling indah di sini pada sebuah kenyataan yang memberikan lubang besar di dasar hati. Lubang itu tidak hanya berbekas, tapi masih menganga dan menyisakan rasa perih.

Murnaini, gadis manis yang pernah menjadi bagian dari lubang itu masih terlukis di hati ini. Dia sama sekali tidak pernah secentipun memberikan luka padaku, namun ketidak mampuanku memilikinya membuat aku menyesali diri sampai saat ini. Semoga angin di desa ini masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu, saat aku dan dia menyatukan hati untuk saling memiliki. Semoga saja harapanku masih sama seperti dulu saat aku memiliki impian untuk hidup bersamanya. Murnaini, aku kembali dengan kesuksesan yang dulu sering kau harapkan. Aku kembali dengan penyesalan yang sama dan perasaan yang tidak pernah berubah meskipun aku tidak akan pernah bisa memilikimu. Semoga masih ada sisa harapan untuk aku menenangkan hati, jika engkau masih sama seperti dulu, semangat dan penuh impian. Meskipun sejujurnya aku tahu kalau kau sudah hancur.

***
Anginnya sedikit menyayat dan memekik rasa sakit, sama seperti perasaanku saat itu. Perasaan sepuluh tahun yang lalu saat aku dicabik kekecewaan. Salah satu rival kerjaku telah menghancurkan mimpiku sampai berkeping-keping, bahkan tidak tersisa sedikitpun. Dia menyuruh anak buahnya menggangguku hingga hilang keberanian untukku melawan. Di depan mata telanjangku aku melihat mereka menodai Murnaini beramai-ramai persis saat setelah kami membeli cincin untuk pertunangan lusa nanti. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku terlalu lemah untuk bisa melindungi orang yang paling aku sayangi. Aku hanya bisa menyesali diri atas ketidakmampuanku saat itu. Mereka menyisakan nyawa padaku dan Murnaini untuk kehidupan yang sudah tinggal noda. Aku tidak bisa membayangkan perasaannya saat itu, apalagi saat ia putuskan untuk mengakhiri kehidupannya sendiri. Semuanya karna aku, dia telah hancur karena aku.
Aku , lelaki macam apa? Lelaki yang hanya bisa diam tak berdaya saat di depan mata calon istrinya diperkosa beramai-ramai??.....

“ Mur, kamu harus tetap hidup untuk aku, “ ucapku lembut berusaha menenangkan perasannya yang kacau balau.
Murnaini tidak banyak bicara, dia hanya diam sambil mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di matanya. Aku peluk dia erat-erat dan menangis sepuasnya disana. Perasaan bersalah begitu menghujam jantungku dalam-dalam.
“ jangan pernah lagi berfikir untuk meninggalkan aku, apapun alasannya. Kau harus selalu menunggu aku, “ isakku meledak.
Aku tidak tahan melihat keceriannya yang hilang. Murnaini hanya diam mematung, dia seperti disihir menjadi bisu. Tapi aku berjanji akan tetap menjadikannya bagian dari kehidupanku nanti. Aku tidak akan pernah meninggalkan dia, tidak akan!

Murnaini hamil, jelas bukan karna aku. Tapi benih dari bajingan-bajingan keparat itu. Murnaini bertambah sedih dan terbebani. Dia merasa jijik akan dirinya sendiri. Sungguh aku tidak kuasa melihat gadisku menderita seperti itu. Seandainya ada sebuah cara untuk memutar waktu kembali seperti dulu, aku berjanji akan melakukan apa saja.
“ lebih baik aku mati daripada harus hidup seperti ini, “ desisnya suatu saat. Matanya cekung dan sembab. Aku yakin semalaman dia menangis.
“ kalau kau mati, lalu bagaimana aku? “ tanyaku perih.
“ Kau akan baik-baik saja, “
“ kau tahu, di hati ini ada perasaan yang sudah mendarah daging. Jika kau pergi itu sama saja dengan membunuhku dua kali sekaligus, “
Murnaini terdiam. Dia menangis lagi. Buru-buru aku memeluknya kembali.
“ aku akan menikahimu secepatnya, “ bisikku.
Ada secercah cahaya di wajahnya yang kusut. Semoga dia akan bahagia, batinku.

***
Selalu tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Semua keluargaku mencaci kehadiran Murnaini dalam kehidupanku. Aku harus memilih dia atau kedua orang tuaku. Mereka tahu kondisi Murnaini saat itu, mereka tidak mau menanggung aib atas perbuatan orang lain. Sungguh ini sebuah pukulan berat untukku dan Murnaini. Terlebih lagi ketika aku dihadapkan pada kondisi ibuku yang semakin hari semakin memburuk di rumah sakit. Aku benar-benar dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit. Namun aku masih tetap keras kepala untuk meminang Murnaini hingga akhirnya ibuku meninggal karna serangan jantung. Itu hal pertama yang aku jadikan alasan meninggalkan Murnaini. Aku tidak mau hal serupa terjadi pada ayahku. Meski batu gunung menimpaku bertubi-tubi saat itu, tapi aku yakin dengan meninggalkan Murnaini semuanya bisa selesai. Yah, bisa selesai.
“ aku harus pergi, “ ucapku pada suatu hari.
Wajah Murnaini begitu mendung. Aku yakin dia tidak akan tahan mendengar ucapanku.
“ aku tidak bisa memilih kamu, Mur. Keluargaku……, “ ucapku tersendat.
Lagi-lagi Murnaini mematung. Dia tidak berkata sedikitpun, dia hanya menangis.
“ tolong, jangan menangis, jangan buat aku jadi lemah,“ aku langsung memeluknya dengan begitu erat. Aku sungguh tidak tega melihatnya seperti itu. Murnaini semakin tersedu .
Pelan-pelan aku melepaskan pelukanku. Aku harus berani meninggalkannya, aku harus berani. Bagaimanapun aku tidak boleh lemah akan hal ini. Aku yakin Allah akan memberikan ketabahn untuknya.
“ aku benar-benar harus pergi, Mur. Aku tidak bisa memilikimu. Kau pasti tahu kepergiaan ibu sudah menikam kesedihanku. Aku tidak mau itu terulang pada bapakku hanya karna keegoisannku untuk memilikimu. Aku yakin kamu mengerti, Mur. Aku pergi bukan karna aku tidak mencintaimu, ini semua demi kebaikan kita, “
berulang kali aku menarik nafas. Sangat berat rasanya menyakiti orang yang justru aku sayangi. Aku ingin buru-buru membuang muka, aku tidak tahan melihat wajah orang yang aku sayangi menangis seperti itu.
“ kau tidak mau bicara, Mur??”
Murniani hanya diam.
“ aku akan pergi, Mur. Kau tidak mau bicara apa-apa? “
Lagi-lagi Murniani diam. Dia mengunci mulutnya rapat-rapat. Atau mungkin dia tidak sanggup berkata karna sesakknya kesedihan di dadanya.
“ sekali lagi, Mur. Kau tidak mau bicara apa-apa?”
Semuanya sepi. Murnaini masih diam.
“ baik, baik kalau begitu. Aku …. Aku pergi sekarang, “
aku lepaskan genggaman tanganku perlahan-lahan. Air mata Murnaini masih terus membanjir. Aku buru-buru membalikan badan dan beranjak pergi meninggalkannya. Aku tidak mau menengok lagi, sungguh!!!
Namun baru beberapa kali melangkah, dia mulai angkat bicara.
“ jika kau membatalkan pernikahan kita, maka akan aku potong kedua jari manisku sekaligus, yang kiri dan kanan, agar kelak tidak ada kesempatan lagi bagimu untuk kembali, juga orang lain. “
sejenak aku diam terpaku. Mencoba mencerna apa yang dia bilang. Sungguh Murnaini, maafkan aku. Aku tidak akan kembali lagi padamu. Aku tidak perlu kesempatan apa-apa lagi untuk memilikimu, batinku. Aku berusaha berlagak tidak peduli dan pergi melanjutkan langkahku. Aku benar-benar pergi. Pergi meninggalkan perasaan yang sudah mendarah daging. Mungkin sebenarnya hatiku saat ini mati rasa. Aku sudah membunuh perasaaanku sendiri dengan sangat begitu dalam. Maafkan aku Mur, maafkan!! Kenyataan ini begitu pahit aku telan. Semua persendianku seakan ditusuk jarum perak bertubi-tubi. Aku yakin kau merasakan hal yang sama seperti ini, Selamat tinggal Mur,…

***

Seminggu kemudian aku menikah dengan seorang perempuan pilihan ayahku. Aliska namanya, gadis berkerudung panjang dengan tahi lalat di bawah bibirnya. Aku tidak mencintainya seperti aku mencintai Murnaini, namun aku begitu menghormati keputusan ayah tercintaku. Maka saat itu aku putuskan untuk mencintai apa yang aku miliki meski kenyataannya aku tidak bisa melupakan Murnaini. Bahkan ketika acara pernikahanku dengan Aliska, Murnaini datang dengan wajah ringkih dan luka di kepalanya. Aku dengar dari tetangga kampung, Murnaini menggugurkan kandungannya Dia menangis dari kejauhan dan kemudian pergi berlari menghilang di tengah kerumunan orang-orang. Aku hanya diam. Aku hanya berusaha menjadi pengantin yang tidak memperkeruh acara. Sungguh aku lelaki yang tidak berperasaan telah menyia-nyiakan pengorbanan seorang wanita sebaik Murnaini. Sejak saat itu aku tidak tahu Murnaini ada di mana dan keadannya seperti apa, yang aku yakini kalau dia akan baik-baik saja. Aku yakin Allah sangat menyayangi wanita penyabar seperti dia.

***
Sebuah tangan memegang pundakku dengan tiba-tiba. Aku terperanjat kaget. Semua lamunanku tentang Murnaini mendadak hilang. Sesegera mungkin aku menoleh. Seorang supir dengan tas besar ditangannya tersenyum ramah padaku.
“ pak Bagas, maaf tasnya di taro di mana yah?? “
“ e…. di dalam saja, iyah ..taro di dalam aja, “ jawabku gugup.
Ya Allah , kenapa aku bisa melamun sejauh ini ke masa lalu. Mungkin aku terlalu takut bertemu kembali dengan Murnaini atau lebih jelasnya mungkin aku sangat berharap bertemu dengannya kembali. Tidak, aku sudah punya anak dan istri. Aku tidak boleh berharap sedikitpun bisa bertemu lagi dengan Murnaini. Dia hanyalah masa lalu. Dia hanyalah sepenggal kisah yang gagal. Aku harus focus pada pekerjaanku. Aku tidak boleh memikirkan dia lagi, tidak boleh!

Seminggu sudah aku tinggal di desa ini. Aku menang, seminggu ini aku berhasil tidak memikirkan Murnaini terlalu dalam. Aku anggap dia sebagai mimpi buruk, meski justru impian itu yang sering aku tunggu. Aku hanya berusaha menjadi suami dan ayah yang baik walaupun aku juga sama saja seperti lelaki lainnya. Punya kesedihan, kekesalan, penyesalan dan rasa cinta.

Aku sudah menyelesaikan beberapa tugas. Aku tutup laptopku dan berusaha meregangkan kaki. Mata mulai digoda rasa ngantuk. Aku beranjak bangun dan duduk disamping jendela kamarku, mencoba melihat rembulan yang nampak remang-remang. Aku terpekur dalam kesendirian. Namun tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara harmonika. Kadang suaranya terdengar ceria, trus menurun seperti dihimpit luka dan kembali datar seperti dalam keterbiasaan yang sia-sia. Lantunan harmonika itu begitu menggetarkan hati. Aku yakin orang yang meniup harmonica ini adalah orang yang mempunyai perasaan dalam tentang kehidupannya.
“ suara apa itu malam-malam begini, pak? “ tanyaku pada supir pribadiku yang saat itu sedang menikmati kopi panas di taman depan. Aku terlalu ingin tahu, makanya aku sempatkan keluar dari kamar.
“ oh, itu suara orang sedang meniup harmonika, tuan. Kata orang kampung sini suara itu berasal dari atas bukit sana, “ supirku menunjuk sebuah bukit diseberang rumahku. Bukit kecil tempat dulu aku bermain-main. Aku hanya mengangguk-angguk berusaha mengerti.
“ Tuan tidak bisa tidur karena terganggu oleh suara itu? “ supirku kembali bertanya dengan antusias. Aku hanya menggelengkan kepala.
“ malah saya suka mendengarnya, “ ucapku sambil beranjak pergi kembali ke dalam kamar.
Aku hempaskan diri di atas kasur sambil mencoba menerawang ke langit-langit. Aku mulai serius mendengarkan alunan harmonica itu. Suaranya sungguh mengiris hati. Mungkin saja orang yang melantunkan harmonika itu adalah seorang yang memiliki lika-liku hidup yang begitu rumit, jauh rumit dari kehidupanku. Ah, aku tidak boleh mulai melamun lagi. Aku tidak boleh tersihir oleh suasana kampung ini. Aku sudah memiliki kehidupan baru yang penuh lembaran-lembaran kosong di masa depan. Aku harus mengisinya dengan semangat hidup, kesuksesan dan kebahagiaan sesungguhnya.

Keesokan harinya istri dan anakku datang menyusul ke kampung ini. Syukurlah, setidaknya aku tidak lagi sendirian. Mungkin kebiasaaan melamunku akan sedikit berkurang, atau paling tidak aku bisa terhibur oleh si kecil Chaca.
“ papa kangen banget sayang, “ aku peluk putriku saat ia tiba. Ibu dan anak itu nampak begitu bahagia melihatku baik-baik saja.
“ disini suasananya tenang, mas. Masih asri dan hijau, “ ucap Aliska memberi komentar.
“tempat ini akan cocok untuk seseorang yang hobi menulis, “ sahutku mengiyakan. Aliska tersenyum tersipu.
“ iyah, aku akan menulis banyak cerita di sini mas, “
Aliska nampak berapi-api. Aku tahu dia sangat suka menulis. Walaupun bukan penulis hebat, tapi aku suka tulisan-tulisannya. Dia hanya menulis untuk konsumsi dirinya sendiri dan orang-orang yang menghargai tulisannya. Meski aku tidak mencintainya, tapi aku suka kebiasaan-kebiasaannya.

Akhirnya suasana di rumah mulai ramai, tidak sepi seperti seminggu kemarin. Aku sudah dianugrahkan seorang istri yang soleh dan anak yang manis, tapi kenapa aku masih saja merasa kurang jika tidak memiliki Murnaini. Sungguh egois diriku ini. Namun semaya apapun perasaan tetap tidak bisa dibohongi. Hati itu adalah cermin segala-galanya. Semoga aku bisa melewati ini semua tanpa ada yang tersakiti, aku, istiku, anakku bahkan Murnaini jika kelak bertemu.

***
Suara harmonika itu ternyata menyihirku untuk terus mendengarkannya sampai sisa suara itu habis. Setiap malam, setiap bulan dan bintang bersinar, maka hanya lantunan itu yang sering aku perdengarkan. Aku tidak akan pernah tidur sebelum suara harmonika itu berhenti di tengah malam. Hal serupa terus berlanjut sampai tiga bulan berikutnya. Aku sungguh sudah terbiasa menikmati malam diiringi dengan lantunan itu. Lantunan yang khas, lantunan yang penuh mimpi dan pengharapan yang mencabik hati. Siapa sebenarnya yang meniupkan harmonika itu, adakah dia seorang yang memiliki hati yang besar, pengharapan yang besar dan impian yang tidak pernah pudar dalam kehidupannya. Jika memang iya, aku ingin berguru padanya untuk memahami arti hidup. Belajar untuk tidak merubah pendirian meskipun ada pengharapan yang tidak sampai, keinginan yang gagal, cita-cita yang tidak terlaksana , bahkan ketika aku tersakiti sekalipun.

Aneh, siang hari seperti ini tiba-tiba suara harmonika itu terdengar lagi. Bahkan suaranya sangat jelas. Aku heran. Aku mencari arah suara itu dengan sangat antusias. Mungkin saja orang yang selama ini meniupkan harmonika setiap malam itu ada di sekitar sini. Namun sayang, aku hanya memergoki Chacha sendirian di taman. Dia tersenyum nakal sambil menyembunyikan sesuatu di tangannya.
“ sedang apa Cha kamu disini? “ tanyaku pelan-pelan. Chacha hanya tersenyum.
“ Cuma maen-maen aja, pah, “ jawabnya.
“ mamah mana? “
“ sedang ke pasar, pah, “
Tingkah Chaca sangat aneh. Aku tidak bisa dibohongi oleh anak umur enam tahun seperti dia. Pasti ada yang sedang ia lakukan.
“ itu apa di belakang Chaha? Boleh papa liat? “
Chacha menggeleng ragu.
“ papa nggak bakal merebutnya, papa Cuma pengen liat. Boleh ya? “
Chacha seperti masih ragu. Dia diam sejenak dan kemudian menunjukkan apa yang ia sembunyikan kepadaku. Ditangannya ia memegang harmonika yang sudah sedikit tua, jelek dan berkarat. Aku memandang heran, berarti yang tadi meniup harmonika itu adalah Chacha. Bagaimana bisa dia melantunkan harmonica sama seperti yang aku dengar selama ini.
“ chacha bisa meniup harmonika ini?”
Chacha mengangguk. Dia agak ketakutan.
“ dapat dari mana ini sayang? “ aku berusaha selembut mungkin.
“ Chaca pinjam dari tante yang ada dibukit sana, pa,” ucapnya datar sambil menunjuk sebuah bukit di seberang rumahku. Aku kaget, kenapa bisa anakku bermain-main di bukit itu tanpa sepengetahuanku.
Pada saat yang sama Aliska datang dengan belanjaan di tangannya. Dia mengucapkan salam dan mencium tanganku. Aku sedikit kesal padanya.
“ Lis, kenapa Chacha bisa sering main di bukit sana? “ tanyaku tiba-tiba. Aliska hanya tersenyum.
“ iyah mas, suasana bukit itu sangat indah. Aku yang sering mengajak dia bermain di sana. Aku sering menulis di sana mas. Apakah aku salah mas? apa di sana bahaya? “ Aliska mencoba menjelaskan. Aku menghembuskan nafas berat. Mungkin aku terlalu khawatir.
“ kenapa mas?”
“ oh tidak, tidak apa-apa, “
“ seorang wanita telah berbaik hati meminjamkan harmonikanya. Kemarin Chacha merengek ingin mencoba harmonika itu. Untung saja perempuan itu baik hati, “
“ siapa dia? “
“ aku kurang tahu, mas. Dia tidak banyak bicara, “
Aku tergugu. Ada perasaan aneh yang timbul tiba-tiba. Kenapa perasaan ini begitu dekat namun menyakitkan. Ada apa sebenarnya ini. Aku buru-buru beranjak pergi dan menyendiri di kamar. Apakah mungkin dia Murnaini, apakah dia masih suka membisu?? Apakah dia…., ah tidak mungkin. Siapa tahu Murnaini sudah bahagia dengan keluarganya, atau siapa tahu dia sudah….
Aku tutup mukaku dengan kedua tanganku. Buru-buru aku ambil wudhu dan melaksanakan shalat Dzuhur. Semoga ada jalan. Semoga ada ketenangan yang bisa membasahi batinku. Ya Allah berikanlah secercah cahaya untukku.

***
Aku harus membayar keragu-raguanku dan prasangka yang tidak menentu. Aku ajak Chacha ke bukit itu. Aku akan mengembalikan harmonika itu dan mencari jawaban keragu-raguanku selama ini.

Bukitnya masih sama, penuh pohon yang sering bernyanyi dan bebatuan yang membisu. Anginnya masih sejuk seperti dulu. Hanya saja saat ini aku menikmatinya dengan hati galau. Benar kata istriku, disini suasananya begitu indah dan damai. Aku juga suka tempat ini. Apalagi aku sudah menyatukan hati sepuluh tahun yang lalu disini. Aku tidak mungkin berpura-pura tidak kenal tempat ini. Bukit ini begitu membeku dalam perasaanku.
“ disana pah, “ Chacha menunjuk suatu tempat.
Aku melihat seseorang duduk terpekur disana. Melamunkan sesuatu yang tidak pasti dengan pandangan kosong. Sambil menatap langit yang tidak begitu cerah. Rambutnya panjang tidak teratur. Ringkih seperti penyakitan. Aku benar-benar seperti disayat pedang karatan. Aku teriiris ngilu melihat perempuan itu. Perempuan yang namanya sudah mendarah daging. Perempuan yang pernah aku sakiti dengan begitu sangat egois. Murnaini, benar…dia Murnaini.
Matanya begitu sangat cekung, ada guratan hitam disana. Bibir dan wajahnya pucat seperti kapas, dia benar-benar ringkih dengan kondisi tubuhnya yang kurus kering. Dia tidak terkejut melihat kehadiranku. Dia hanya memandangku dengan pandangan kosong yang tidak bermakna. Namun pandangan itu adalah pandangan yang selalu membuat aku semakin teriris. Aku didakwa penyesalan yang bertubi-tubi. Perih ini terasa lagi, luka ini semakin menganga dan berlendir. Ya Allah, seperti inikah orang yang pernah aku tinggalkan? Aku seperti diiris pandangan yang tidak memiliki makna.
“ Mur,…” sapaku pelan.
Dia tidak bergeming, sama sekali tidak bergeming. Aku sangat terpana. Seandainya aku perempuan ingin rasanya aku menangis tersedu saat melihat sosoknya yang hancur seperti itu.
“ Mur,…. Ini aku Mur, Bagas, “ aku pegang pundaknya perlahan-lahan. Namun aneh, dia seperti ketakutan. Aku langsung melepaskan genggaman tanganku dan berusaha menenangkannnya kembali.
“ tidak, Mur. Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu, “
Mur tidak bicara apa-apa. Dia hanya ketakutan. Dia memeluk Chaha seolah meminta perlindungan. Aku sungguh tidak tahan, air mataku berbondong-bondong keluar dari pelupuk mataku. Aku tidak bisa diam, aku tarik dia dan membenamkannya di pelukanku. Chaca yang ada disana merasa asing dengan suasana ini, dia berlari dan pergi meninggalkan aku. Aku tidak peduli.
“ Aku Bagas, Mur. Aku Bagas, “ tangisku meledak. Mur meronta melepaskan pelukanku. Dia mencoba mendorongku, namun saat dia mulai mendorongku aku terperanjat kaget. Mur kehilangan kedua jari manisnya. Dia hanya memiliki delapan jari. Ya Allah sejauh inikah aku menyakiti Murniani?
Aku tergugu.
“ Mur, apa yang kau lakukan??”
aku memegang kedua tangannya yang tidak berjari lengkap. Murnaini hanya terdiam, berusaha mengelak namun aku terus memegangnya.
“ kenapa kau lakukan ini, Mur?” tanyaku sekali lagi.
“ Kenapa? “ kali ini tanyaku meledak. Aku bentak dia sambil terisak.
Murnaini masih terdiam sambil merasa ketakutan. Dia tidak lagi cengeng, dia tidak lagi menangis. Namun aku yakin dia sudah tidak memiliki sisa air mata lagi untuk dikeluarkan. Semuanya begitu menyakitkan. Aku peluk lagi dia dengan sangat erat, erat sekali. Aku tidak mau melepaskannya. Aku menyesal, sungguh menyesal.
“ kau fikir aku tidak akan kembali? Kau fikir aku tidak mencintaimu? Sungguh Mur, aku sangat menyesal, “
Aku eratkan pelukanku padanya. Murnaini sedikit tenang, dia tidak meronta lagi. Namun aku yakin perasaannya sudah begitu kosong. Dia adalah kesepian dari segala kesepian. Dia adalah kesunyian dari segala hampa kehidupan.
Angin mendadak bersemilir begitu tenang.
Sepi.
“ mas…, “
seseorang memanggilku. Aku lepaskan pelukanku pada Murnaini yang masih mematung. Aku menoleh karna aku kenal suara itu. Aliska? Dia berdiri dihadapanku dengan wajah mendung. Chaca tiba-tiba menyembul keluar dari balik tubuh Aliska. Rupanya Chacha yang memanggil ibunya ke sini. Aku tidak terperanjat, aku tidak kaget. Aku sudah tahu akan begini, akan ada orang yang tersakiti.
“ Lis,….dia murnaini, dia gadis yang dulu pernah aku tinggalkan, dia….., “ ucapku terputus.
Aliska menempelkan telunjuknya di bibirnya yang tipis. Dia tidak membutuhkan penjelasanku. Tapi jelas sekali aku melihat dia menelan air matanya.
“ aku jauh lebih tahu, mas. Aku tahu semuanya, karna aku adalah bagian dari kehidupan mu. Aku tahu apa yang mas lakukan, yang mas fikirkan bahkan yang mas rasakan sekalipun, “ Aliska berusaha mengambil kesempatan untuk melepaskan nafas panjangnya.” Karena itu aku menyusul ke desa ini, “ dia menangis.
“ awalnya aku tidak akan memberikan kesempatan pada siapapun untuk memilikimu. Tapi aku salah, mas. Tidak ada yang bisa aku paksakan, apalagi itu soal perasaan. Aku juga perempuan, mas. Aku mengerti…,” lanjutnya. Aku hanya berusaha diam untuk memahami.Aliska membalikan badan dan berusaha pergi, namun mendadak langkahnya tersendat.
“ aku yakin, gadismu itu masih memberimu kesempatan, mas. Biarpun dia sudah memotong kedua jari manisnya untukmu dan orang lain, namun kau masih bisa menyematkan cincin di hatinya. Menikahlah dengannya, mas, aku ridho, “ Aliska menyeka air matanya kemudian dia pergi. Aku hanya melihat kerudungnya yang melambai-lambai tertiup angin dan kemudian hilang dalam pandangan. Aku dan Murnaini seperti membatu. Namun keputusan istriku adalah jalan keluar yang terbaik, sungguh terbaik!!

***

Aku meminang Murnaini dengan Basmallah yang sedalam-dalamnya. Aku meminang dia dengan kesungguhan yang sesungguh-sungguhnya. Meski Murnaini masih menyendiri dalam kebisuannya, namun aku yakin dia masih mencintaiku. Kini dia tinggal di rumah bersama-sama denganku, Aliska dan si cantik Chacha. Aliska cukup sabar meskipun dia dimadu. Dia benar-benar menjadi perempuan shalehah selama aku kenal. Dia mengurusi Murnaini dengan sabar dan selalu menganggapnya sebagai adik kandungnya sendiri. Sayang sekali sampai detik inipun Murnaini masih saja membisu padaku. Dia hanya bicara pada Aliska dan Chacha, itupun hanya beberapa patah kata saja. Dia benar-benar sudah berubah. Ya Allah ternyata pinanganku tidak bisa menyembuhkan pukulan berat yang pernah ia terima. Ternyata aku tidak mampu mengembalikan Murnaini menjadi perempuan ceria seperti dulu.
“ kita harus sabar, mas, “ Aliska mencoba memberikan ketenangan padaku.
Aku hanya mengusap muka dengan kedua belah tanganku.
“ aku tidak tahu harus bagaimana lagi, dia masih juga seperti itu. Diam dan tidak banyak bicara, “ keluhku.” Aku ingin melihat dia kembali ceria, aku ingin dia sembuh, Lis, “
“ bersabarlah mas, semua ini akan ada jalan keluarnya. Kita sama-sama menyayangi dia, kita harus menjaga dia dan merawatnya sampai sembuh. Sepuluh tahun itu tidak sebentar mas. Itu waktu yang sangat lama bagi seseorang yang menjalani kehidupannya dengan aib, kekerasan, penyesalan dan kekosongan hati. Dia tidak punya siapa-siapa mas, dan pada saat mas meninggalkannya pun dia sendirian, “ jelas Aliska.
“ iyah, dia sendirian….,” ucapku datar.
“ dia sendirian, “ ucapku lagi. Aku bangun dan beranjak ke balik pintu. Di sana aku lihat Murnaini sedang menatap kosong ke jendela luar sambil duduk terpekur dalam kesunyian. Tidak ada apa-apa dalam pandangannya. Dia seperti memiliki dunianya sendiri. Batinku tersayat lagi. Sampai kapan aku mampu menyembuhkan lukanya hingga tidak berbekas. Aku ingin Murnaini bahagia. Sungguh!!
Aku hampiri Murnaini pelan-pelan. Dia tahu aku ada disini, namun dia tetap tak bergeming. Aku pegang tangannya erat-erat.
“ Mur, “ ucapku lembut. Dia masih diam saja.
“ kamu mau meniupkan harmonika untukku lagi ? “tanyaku pilu. Aku ambilkan harmonika tua kesayangannya. Berharap dia mau melakukan sesuatu untukku. Namun lagi-lagi Murnaini tetap tak bergeming. Aku seperti dibodohi diri sendiri. Aku kesal dan menyesal.
“ kau tidak mau? “ ada air mata yang menetes di hatiku. Lukanya semakin terasa perih.
“ kau tidak mau? Bicara Mur, bicara…,” aku sedikit membentak. Aku sedih melihatnya terus-terusan seperti itu.
“ tolong Mur, bicara padaku, bicaralah. Tampar aku, pukul aku kalau kamu marah. Bunuh aku sekalian kalau kamu selama ini kecewa, tapi…tapi…kamu jangan terus seperti ini. Mur, aku ingin kamu bahagia, aku tidak tahan melihat kau seperti ini, “ aku histeris, aku peluk Murnaini sambil menangis. Aku tidak peduli dibilang laki-laki cengeng, tapi aku sungguh menyesal telah menyakitinya seperti ini. Jangankan untuk tertawa seperti dulu, menangispun dia sudah tak bisa.
Aliska menghampiriku dan mengusap pundakku saat aku memeluk Murnaini. Aku masih sedih.
“ yang sabar, mas. Murnaini pasti sembuh, “ ucap Aliska menenangkan.
Aku lepaskan pelukanku sambil berusaha menelaah kata sabar yang tadi Aliska katakan. Aku tidak tahu sabar itu apa, aku Cuma ingin Murnaini bahagia, itu saja.

***

Malam ini aku ingin tidur sendirian tanpa ditemani Aliska maupun Murnaini. Aku ingi menyepi. Aku ingin banyak menulis cerita di atas bulan. Aku ingin mencumbu impian sambil menikmati sunyi malam.
Hmmm, harmonikanya terdengar lagi. Aku menyadarkan diri kalau itu bukan mimpi.. aku mulai serius mendengarkan lantunan itu, ya , suaranya sama, nadanya sama, berarti itu Murnaini. Aku sempat bahagia kalau dia mau melantunkannya lagi untukku. Namun tak begitu lama lantunan itu berhenti dengan cepat. Tidak ada lagi suara apa-apa. Aku hembuskan nafas yang seakan begitu berat mencekat kerongkonganku. Ternyata ini hanya mimpi, keluhku. Aku kembali terbaring dan tidur.

Murnaini hilang! Itu sarapan pagi yang aku hadapi hari ini. Semua sibuk mencari Murnaini. Namun tidak ada apa-apa. Semua kosong ditelan ketiadaaan.
“ pah, mungkin mama Mur pergi ke bukit, “ ucap Chacha ikut andil.
Kami bergegeas mencari Murnaini ke sana. Ternyata benar, dia disana. Aku dan Aliska lega melihatnya, dia ada disana tidur telungkup dengan harmonika di tangannya. Dia memang selalu seperti itu. Menikmati keindahan bukit cinta sampai tertidur. Aku dan Aliska segera menghampirinya. Aku mencoba membalikan badannya namun ternyata yang aku lihat adalah sesuatu pemandangan yang benar-benar menusuk ubun-ubun.
“ Astagfirullah…,” pekik Aliska.
Kami semua terperanjat melihat wajah Murnaini yang pucat pasi. Mulutnya berbusa dan mengeluarkan banyak darah. Dia meninggal, dia meninggal, dia sungguh meninggal.
Ada timah mendidih yang panas mengguyur kerongkonganku. Aku seakan ikut mati juga.
“ Mur…, “ aku langsung membeku.

***

Dia menyendiri diantara tumpukkan tanah yang masih merah basah. Lagi-lagi aku meninggalkannya sendirian. Aku membiarkannya sendirian bersama cacing-cacing dan kecoa. Aku membiarkannya sendirian diatara kesepian yang sesungguhnya. Dia sudah berpulang, dia pergi untuk selama-lamanya. Seandainya aku tidak memiliki istri soleh seperti Aliska dan anak yang manis seperti Chacha, mungkin aku sudah menyusulnya ke alam sana. Murnaini benar-benar tidak akan bicara apa-apa lagi padaku, hanya lantunan terakhir semalam yang ia berikan padaku. Ternyata itu bukan mimpi, aku baru menyadarinya saat ini.
“ semoga segala amal kebaikannya diterima disisi-Nya, mas, “ Aliska mengingatkanku untuk tidak berputus asa. Kesedihan tidak akan membuatnya kembali, hanya doa yang bisa menjadi pencerah jalannya.
Setelah menaburkan bunga terakhir, aku dan semua orang-orang yang ada di pemakaman ini mulai beranjak pergi. Aku sudah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang hidup bercampur dengan nafasku. Aku kehilangan sebelah nyawa. Semoga Mur bahagia di alam sana, semoga!
Gerimis tipis mengguyur bumi saat ini. Gerimis yang turun seakan berisi kerikil tajam. Aku sungguh dihimpit batu kali yang berat. Darahku membeku dan ubun-ubunku seakan diiris tipis-tipis. Kepergian Mur sungguh menghantam batinku bertubi-tubi. Ya Allah, tabahkanlah aku…..
Aliska menggenggam tanganku dengan lembut dan mengajakku pulang. Aku mulai melangkahkan kaki meninggalkan pemakaman yang kian menyepi.

* * *
malam ini sungguh mencekam. Dingin yang menyelimuti kulit seakan menusuk jantung. Aku merasakan aliran darah membeku menjadi batangan es yang berceceran. Aku termenung sesaat takkala suara harmonika tiba-tiba terdengar sangat merdu. Suaranya kadang naik seperti impian yang tinggi, kadang turun seperti terhempas kesedihan yang begitu dalam. Suaranya terus mendayu memecah kesunyian. Aku seperti diterbangkan mimpi setinggi-tingginya dan di hempaskan sejauh-jauhnya karna aku sadar semuanya sudah menjadi kisah yang gagal. Aku baru terhenyak kaget akan sesuatu.
“ Mur? ” desisku. “ Mur kembali? “ teriakku dengan mata berbinar.
Bayangan Murnaini dari balik jendela tidak begitu jelas. aku terbangun dengan sangat terburu-buru. Aku mencoba merengkuhnya dengan segenap pengharapan.
“ Mur…, “
“ Mur jangan pergi, “ teriakku.
Namun bayangannya semakin menipis dan mendadak hilang di telan malam.
“ Murrrrrrrrrrrrrrrrrr…….., “ aku semakin histeris.
Murnaini benar-benar pergi. Dia meninggalkan aku dengan jiwa yang terus menggila.
“ Istigfar mas, Istigfar…, “ suara Aliska tiba-tiba membuat bayangan itu buyar seketika. Aku mendadak sadar dari impian yang mungkin setengah nyata.
“ Astagfirullah…, “ aku mencoba mengatur nafas.
Aliska memberikan aku minum dan mencoba menenangkan aku dengan sepenuh keyakinannya.
“ bagaimana Mur bisa tenang di alam sana kalau mas terus seperti ini, “ ucap Aliska lembut.
Aku terpaku sambil mencoba menenangkan diri.
“ ikhlas mas, ikhlas….. meskipun itu berat mas harus bisa mengikhlaskannya. Aku yakin Mur pun tidak suka melihat mas seperti ini. Doakan dia dan buat dia tenang di alam sana, “ ucap Aliska kembali dengan penuh keyakinan.
Aku mengangguk mengiyakan. Aku coba beristigfar berkali-kali mencoba menetralisir emosi yang tidak terkendali. Sedikit demi sedikit rasa sakit terkikis perlahan. Aku benar-benar mati-matian menenangkan diri.
“ mas, kita tahajud bersama. Mas juga belum shalat Isya karna tadi ketiduran. Aku tunggu ya mas, “ ucap Aliska dengan lembut.
Dia mengusap pundakku dan beranjak pergi meninggalkan kamar. Aku masih terpaku. Aku mengusap mukaku dengan kedua belah tanganku. Aku beranjak pergi mengikuti langkah Aliska. Namun mataku tergoda sesuatu di jendela kamarku. Sebuah harmonika tua, berkarat dan kusam menyepi di sana. Sejenak aku diam.
“ Astagfirullah…, “ ucapku sambil mengusap dada.
Sekali lagi aku mengusap mukaku dengan kedua belah tanganku. Aku pergi keluar dari kamar dan mengubur kerinduan yang tidak bertepi. Akan aku biarkan harmonika itu menjadi kenangan yang bisa menjadi guru untuk kehidupanku.
Ya Allah terimalah segala amalnya, amin.





Cikarang, 23 Desember 2009
Kwangsung 5.56 PM

2 komentar:

  1. kalo aq akan tetap memilih murnaini...
    keluargaku tetap keluargaku...
    pilihanku tidak akan merubah keadaan keluargaku...
    aq akan merasa bahagia ketika seorang yang sedang terpuruk merasa disayangi dan membutuhkanku...
    hidup setia adalah yang utama...
    jangan kita senang diuntungkan sedang orang lain hancur karena kita...
    hidup utama adalah yang utama...

    aq seorang yg pernah tersakiti sepertimu mur...
    aq seorang laki-laki...
    segala usahaku dianggap sampah olehnya...
    smoga tuhan selalu memberikan yang terbaik untuknya...
    Luka ini tidak akan pernah hilang dari kisah perjalanan hidupku...

    BalasHapus
  2. .... selalu seperti apa kata hati nurani...
    Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat....

    BalasHapus