
Berbagi Rindu
Oleh : Faiha Ansori
Aku masih mendengarkan suara seraknya dari balik telefon.
“ Iffah pernah mencintai seseorang?”
“Pernah, Kak, “ jawabku
“Pernah dicintai?”
“Pernah juga, Kak,”
“ Bagaimana rasanya?”
Sambil tersenyum aku menjawabnya dengan lembut,”indah, Kak. “
“Apakah Iffah juga pernah berbohong?”
“Jelas pernah, Kak, “
“Pernah dibohongi?”
“Pernah juga, Kak?”
“Lalu bagaimana rasanya?”
Telefonnya ditutup. Mendadak bibirku tertampar oleh sengatan listrik. Aku membekukan diri dalam kesepian yang diam. Apakah salah jika aku mencintai dan dicintai? Ataukah cinta itu sendiri yang harus disalahkan? Bukankah cinta datang seperti gerimis?
***
Zahra Fatimah namanya. Perempuan hebat yang telah mengangkatku menjadi adik setelah suaminya menikahiku.
“Aku ingin bertemu dengan kak Zahra, Mas. Aku masih tidak yakin ada perempuan seikhlas dia yang mau membagi suaminya kepadaku, “ rengekku suatu saat.
“ Dia itu perempuan yang selalu melakukan apapun karena Allah. Jadi teguhkanlah hatimu, tak ada yang tersakiti dalam hal ini. Begitupun aku, aku menikahimu karena Allah. Bersabarlah, suatu saat kau akan bertemu dengannya, “
Aku mengalah. Membiarkan harapan-harapan bergelantungan di pangkal mimpiku. Entah keyakinan apa yang harus aku pegang erat, karena bagiku poligami itu tetap menyakitkan. Aku tidak tahu ada benang pemikiran apa yang tersulam di hatinya sehingga memaksa aku untuk menerima lamaran suaminya.
***
Air mataku memanas dan membobol pertahananku. Hujan membuncah mengguyur wajahku saat itu. Foto kak Zahra yang aku dapatkan dari dompet suamiku bagai pisau karatan yang menyayat hatiku tipis-tipis. Jadi perempuan inikah yang aku banggakan selama ini? Perempuan yang telah menabrak aku satu tahun silam. Perempuan yang telah menyebabkan aku kehilangan kaki dan pekerjaan. Perempuan yang menyebabkan aku ditinggalkan oleh suamiku yang dulu. Perempuan yang............
Tiba-tiba telefon berdering. Aku segera menyambarnya, namun belum usai percakapanku dengan seseorang dari seberang sana, mataku lumer sudah.
“Innalillahiwainnalilahirojiun, “
***
Aku masih termenung di depan kuburan yang masih merah.
“Dia mengidap kanker, sebisa mungkin dia ingin menghabiskan sisa hidupnya denganku, bukan di penjara karena tabrakan itu. Tapi hatinya selalu berontak untuk tidak lari dari masalah. Karena itu dia mencari kamu, “ ucap suamiku.
Aku masih terpaku.
“Iffah pernah kehilangan seseorang kan?”
Aku mengangguk pelan.
“Seperti inilah rasanya, jadi maafkanlah dia,”
Suamiku memelukku sambil menangis. Aku masih belum bisa bicara apa-apa. Terlalu jauh aku dihempaskan dari masalah ini. Namun tidak ada hal yang paling bijak selain memaafkan perempuan hebat sepertinya. Perempuan yang rela memberikan nama suaminya untukku dan anakku. Perempuan yang sudah terlalu jauh membagi kebahagiaannya untukku.
“Selamat jalan kak Zahra,aku akan merindukanmu.”
11.31 WIB
Flash Fiction ini diikutsertakan dalam lomba FF 400 Kata
bertema Poligami oleh Leyla Imitchanah
bagus bgt ceritaxa mba'....oia, aq juga bikin sebuah tulisan kecil dari baca certa mba ini loh...di blog Qu yg "abis jalan2"...
BalasHapusoia mohon masukannxa ya mba klo main2 k blogQu...
....makasih ya udah mampir, makasih juga untuk komentarnya.......
BalasHapusNanti aku mampir2 deh....